Blogku yang Lain
Buat temen-temen silahkan kunjungi juga blogku yang lain: http://sangpenjelajahmalam.wordpress.com/ http://theexplorersnight.blogspot.com/
Read moreDunia pendidikan Indonesia kembali diguncang oleh isu kekerasan. Belum hilang dari ingatan kita kasus kekerasan yang dilakukan oleh praja IPDN, kembali kita dikejutkan dengan kasus kekerasan di STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran). Sepertinya budaya kekerasan tidak pernah lepas dari dunia pendidikan kita, bahkan sepertinya telah menjadi image pendidikan di Indonesia.
Dengan alasan senioritas dan penbinaan, dijadikan ajang kekerasan pada para junior. Tidak heran bila terjadi bentrokan antara mahasiswa dan polisi beberapa waktu lalu, mungkin itu juga dikarenakan budaya senioritas yang biasanya terjadi di kampus-kampus maupun di sekolah tinggi yang dijadikan alasan untuk melakukan tindak kekerasan pada juniornya. Bahkan pihak kampus maupun sekolah sepertinya hanya diam dan menutupi peristiwa kekerasan tersebut, sehingga karena telah berlarut-larut kekerasan telah menjadi budaya.
Seharusnya kekerasan sudah tidak menjadi budaya lagi di sekolah-sekolah maupun kampus-kampus di Indonesia. Karena hal itu telah menjadikan bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang penuh dengan budaya kekerasan. Kasus penyerangan FPI pada AKKBB adalah salah satu bukti bahwa kekerasan telah menjadi budaya bangsa ini.Oleh karena itu kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang ramah seharusnya bisa membuang budaya anarkis dan kekerasan, baik dalam pendidikan maupun dalam menyuarakan aspirasi.
Cina Kuno:
“Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, jika kamu bekerja keras dan tidak keburu mati.”
Pepatah Arab:
“Man Jadda Wajada”
Artinya:
“Siapa yang bersungguh-sungguh berusaha akan mendapatkan yang diharapkannya.”
Johan Wolfgang von Goethe:
“Kalau kamu ingin menciptakan sesuatu, kamu harus melakukan sesuatu.”
James Allen:
“Jangan biarkan orang lain lebih tahu banyak tentang dirimu. Bekerjalah dengan senang hati dan dengan ketenangan jiwa, yang membuat kamu menyadari, bahwa muatan pikiran yang benar dan usaha yang benar akan mendatangkan hasil yang benar.”
Furqon (Tokoh dalam “Ketiaka Cintah Bertasbih”)
“The formula for success is simple, practice and concentration then more practice and more concentration.”
Artinya:
“Rumus keberhasilan mudah saja, yaitu praktik dan konsentrasi, kemudian meningkatkan praktik dan meningkatkan konsentrasi.”
Hidup ini sepi tanpa hadirmu.
Hidup ini kering tanpa senyummu.
Oh sahabat,
Di mana hadirmu?
Saat aku butuh dukungan darimu,
Saat butuh semua nasehatmu.
Oh sahabat,
Di mana engkau?
Saat aku bokek.
Saat aku kelaparan.
Saat aku hidup papa.
Oh sahabat,
Satu hal yang harus engkau tahu!
Kantong ini kering tanpa uangmu.
Please give me money.
Read moreSeratus tahun berlalu sejak Soetomo (20 tahun) bersama teman-temannya memprakarsai berdirinya Budi Utomo, tonggak pergerakan nasional. Tapi semangat mereka masih terasa hingga sekarang. Berbagai kegiatan deselenggarakan untuk memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional, mulai dari karnaval, parade sepeda ontel hingga berbagai even-even yang bertemakan kebangkitan nasional. Antusiasme para penduduk dari berbagai kalangan begitu besar pada peringatan seabad kebangkitan Indonesia. Slogan-slogan bertemakan kebangkitan nasional bertebaran di mana-mana, di jalan-jalan, radio, hingga televisi nasional.
Sungguh ironi sebenarnya ditengah maraknya slogan-slogan dan seruan kebangkitan nasional, ternyata masih banyak penduduk Indonesia ini yang belum bangkit. Bangkit dari kemiskinan, bangkit dari kebodohan, bangkit dari pengangguran hingga bangkit dari korupsi. Masih banyak orang yang bahkan belum tahu bagaimana bangkit dari keterpurukan, yang hanya mereka lakukan hanya mengharapkan belas kasihan dari orang lain, hanya mengemis. Padahal kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang berbadan sehat dan masih mampu untuk bekerja, bahkan tidak sedikit dari meraka yang dengan tega menyuruh anak-anak mereka yang masih kecil untuk mengemis di lampu merah. Apa mereka tidak berpikir bahwa keselamatan anak-anak mereka dipertaruhkan di sana. Kenapa harus mengimis padahal mereka masih mampu untuk bekerja, bukankah masih lebih baik menjadi pemulung dan pengamen dari pada mereka bermalas-malasan hanya mengharapkan belas kasihan orang lain. Padahal masih banyak orang yang memiliki keterbatasn fisik, tapi mereka tidak mengeluh dan tidak mau bergantung dengan orang lain.
Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang pernah menjadi macan asia, bangsa yang disegani. Sudah saatnya Indonesia bangkit, bankit dari keterpurukan, bangkit dari krisis yang berkepanjangan, bangkit dari kebobrokkan moral. Sudah saatnya macan asia bangkit dari tidurnya, mengaum keseluruh penjuru dunia. Sudah saatnya sang garuda tidak lagi terbang tinggi, setinggi mimpi-mimpinya yang hanya menjadi impian belaka tanpa ada usaha untuk mewujudkannya. Sudah saatnya sang garuda menancapkan cakarnya ke puncak dunia, puncak kebangkitan.
Kebangkitan Indonesia.